suarabarurakyat.com – Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, organisasi RAMA DKI Jakarta menggelar kegiatan sosial bertajuk “RAMA Peduli Opah Omah” di salah satu panti jompo di wilayah Jakarta.
Kegiatan ini menjadi wujud nyata semangat kepedulian dan kebersamaan pemuda Jakarta untuk menebarkan kasih sayang kepada para lansia yang telah berjasa bagi bangsa.
Kegiatan sosial tersebut diikuti oleh puluhan anggota RAMA DKI dari berbagai wilayah Jakarta. Sejak pagi, para anggota tampak antusias menyiapkan bantuan berupa sembako, popok lansia, kebutuhan harian, serta bingkisan sederhana untuk para penghuni panti.
Selain memberikan bantuan, mereka juga menghibur para lansia dengan nyanyian, permainan ringan, dan sesi berbagi cerita yang menghangatkan suasana.
Suara tawa dan candaan terdengar di setiap sudut ruangan, berpadu dengan mata yang berkaca-kaca karena haru.
Para penghuni panti tampak bahagia menerima kunjungan tersebut, sementara para pemuda RAMA juga mengaku mendapatkan pelajaran berharga tentang makna berbagi dan menghargai masa tua.
“Kegiatan ini sederhana, tapi maknanya sangat besar. Kami ingin para anggota RAMA DKI belajar bahwa kepedulian tidak harus dimulai dari hal besar. Cukup dengan hadir dan memberikan perhatian tulus, itu sudah membawa kebahagiaan bagi orang lain,” ujar Kak Ratih, Ketua RAMA DKI Jakarta.
Ratih menambahkan bahwa Hari Sumpah Pemuda harus dimaknai bukan hanya sebagai peringatan sejarah, tetapi juga sebagai momentum untuk menumbuhkan kembali semangat kemanusiaan di tengah kehidupan modern.
Menurutnya, pemuda saat ini banyak yang aktif di dunia digital, tetapi perlu lebih banyak terjun langsung ke lapangan dan berinteraksi dengan masyarakat.
“Pemuda hari ini harus hadir bukan hanya di ruang digital, tapi juga di ruang sosial. Dengan terlibat langsung, kita bisa memahami realita masyarakat dan menumbuhkan empati yang sesungguhnya,” ungkapnya.
Ratih juga menyoroti pentingnya sinergi antar generasi. Ia menilai, berinteraksi dengan para lansia membuka ruang dialog yang memperkaya pemahaman pemuda tentang nilai perjuangan, kesabaran, dan kebersamaan.
“Kita tidak akan pernah maju kalau melupakan akar. Para orang tua ini adalah penjaga nilai, dan sudah sepatutnya kita menghargai mereka,” tambahnya.
Kegiatan “RAMA Peduli Opah Omah” ini juga menjadi ajang pembentukan karakter bagi anggota RAMA DKI. Para peserta mengaku kegiatan ini memberikan pengalaman emosional dan sosial yang mendalam.
Salah satu peserta, Ananda (21), mahasiswa asal Jakarta Timur, mengaku tersentuh saat mendengar kisah para lansia.
“Ada yang bercerita tentang masa mudanya, tentang perjuangan mereka membesarkan anak-anaknya. Rasanya seperti mendengar sejarah hidup yang nyata, dan kami belajar banyak tentang arti sabar dan ikhlas,” tuturnya.
Sementara itu, panitia kegiatan menyampaikan bahwa program seperti ini akan dijadikan agenda rutin setiap tahun.
Tujuannya adalah memperkuat semangat gotong royong, rasa empati, dan kepedulian sosial di kalangan pemuda Jakarta agar mereka tidak hanya aktif dalam organisasi, tapi juga benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.
Acara ditutup dengan doa bersama, pembagian cendera mata, dan foto kenangan antara anggota RAMA DKI dan penghuni panti.
Suasana hangat itu meninggalkan kesan mendalam, baik bagi para lansia maupun para peserta muda yang merasa terinspirasi untuk terus menebarkan semangat kasih sayang.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pemuda bukan hanya agen perubahan dalam teori, tetapi juga penggerak cinta dan kemanusiaan dalam tindakan,” tutup Kak Ratih dengan penuh harapan.
Dengan kegiatan ini, RAMA DKI Jakarta menegaskan bahwa semangat Sumpah Pemuda bukan hanya tentang bersatu dalam kata, tetapi juga bersatu dalam tindakan nyata.
Bahwa di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan, masih ada ruang bagi kepedulian, kasih sayang, dan kemanusiaan — yang menjadi fondasi sejati bagi bangsa yang beradab.




